Senin, 28 Juni 2010

Miss.HTS

Hari ini adalah hari yang buruk buat aku. Aku harus melihat dengan mata kepala ku sendiri dan merelakan orang yang aku puja–puja, yang aku sayang terbang ke Canada. Aku dan sahabat ku hanya bisa terdiam memandangi punggungnya yang semakin menjauh.
Iya sih, aku tahu. Ini mungkin memang salahku. Gara– ara suatu hubungan yang disebut HTS. Hubungan Tanpa Status. Well, dulu (mungkin untuk satu setengah tahun yang lalu) aku mendapat julukan dari teman-teman ku satu kelas eh satu sekolah mungkin, yaitu miss HTS. Jadi gini awalnya.
Waktu kelas X (1 SMA) aku pernah deket gitu sama cowok dari SMA lain. Kita saling kenal lewat obrolan sejuta umat, facebook. Awalnya dia yang ngeadd aku gitu. Terus mulailah kenalan, wall-wall-an, chating-an dan berlanjut ke SMS-an hingga telpon-telpon-an. Yap, tentu aja aku belum pernah bertemu dan mengenal lebih cowok itu. Tapi enggak tahu kenapa makin hari makin nyaman aja ngobrol ama tuh orang. Yah kita mulai dekat dan semakin dekat bahkan kita punya panggilan sayang masing-masing.
Pagi itu aku dengan sangat bersemangat menjelaskan hubungan kita (aku dan cowok misterius itu) kepada sahabat karibku. Ciara.
“Lem, (nggak tahu kenapa waktu lihat Ciara jadi inget helm, mungkin kepalanya
yang betul-betul bulat kecil, kayak helm-helm jaman sekarang itu lho.) aku seneng banget deh, aku udah makin deket aja ama Dafa (nama cowok misterius itu)”, ceritaku sambil sambil menepuk pundak Ciara yang membuat ia menghentikan tangan yang memegang sendok di depan mulutnya.
“Hhh?”, Ciara menghela nafas sambil seperti nada bertanya.
“Cuma hhh??, nggak asik banget sih.”
Ciara kembali menunda memasukkan sendok ke mulutnya. “Kan aku udah bilang
Kus, kamu tu belum kenal sama dia. Liat mukanya aja belum. Kalau dia kayak
Pipin (orang autis tepatnya gila di seberang sekolah) gimana?”
“Udah kok, kan ada profpictnya, lagian kalo kayak si Pipin nggak mungkinlah dia
bisa FB-an dan begitu mempesona.” aku membela argument ku.
“Maksudku kalo mukanya kayak Pipin gimana?? Profpict kan bisa menipu. Dasar odong.” , kembali menunda memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Tapi ya lem, menilai seseorang kan nggak boleh dari wajahnya, tapi hatinya.”
”Oh yaa Kus?? Kita tu temenan dari SD aku tahu seleramu tu gimana.”
“Tapi kan ak….”
“Tikuuuuussss diem!! Nyadar ga sih dari tadi aku udah mangap-mangap tapi nih
nasi nggak masuk-masuk ke mulut ku. Gara-gara aku kudu wajib jawab pertanyaan-pertanyaan mu. Jadi adem kan ni.” , tiba-tiba Ciara menggebrak meja sambil ngomel-ngomel nggak jelas gitu. Seisi kantin berasa berguncang.
“Iyaa iyaa deh Lem,..maaf. Tapi si Pipin tu lumayan gan..”
Ciara menengok ke arah ku dengan mulut penuh nasi goreng yang sudah siap disemburkan ke muka ku. Segera saja tanpa dikomando tangan kananku menutup mata dan tangan kiri menutup mulut.


***

“Sya.”
Aku segera menoleh ke arah Ciara sambil terheran-heran kenapa dia memanggil nama asliku. Padahal kan biasnya dia panggil aku tikus, katanya gara-gara kalau aku mulai ngomong yang nggak jelas gitu terdengar seperti tikus yang berdencit di telinganya. Dengan kata lain dia menyebut ku cerewet yang disopankan. Tapi emang sih si Ciara kalau lagi ngomong serius ataupun ngambeg sama aku selalu memanggil nama asliku. Tasya.
“Iya, Lem.”
“Aku cuma mau nanggepin ama ngasih saran ceritamu yang tadi.”
“Itu emang yang aku harepin daritadi Lem.’
“Menurutku sih..” Ciara memulai petuahnya. “kamu harus lebih mengenal dia
dulu, paling enggak ya kamu ketemu lah sama dia.”
“Pengennya sih gitu Lem.”, aku melantunkan harapan ku dengan wajah memelas.
“Wajah mu tu lho Kus, nggak usah lebay deh.”
“Wajah ku emang gini, lucu.”, tandasku sambil cengengesan.
“Hallah,” sambil menyiku ku sedikit. “ mendingan kamu ajak dia ketemuan deh.
Kamu bakal tahu dia itu gimana.”, Ciara melanjutkan ucapannya.
“Masak aku sih yang ngajak duluan Lem?”
“Ya emangnya kenapa? Itu tu bakal ngejawab semuanya. Bukanya ngarep sih,
tapi bisa aja kan si Dafa itu emang suka TP-TP (Tebar Pesona) ke sana sini di FB. Who know??”.
Iya juga sih ya. Bener juga yang dibilang Ciara. Emang Ciara itu pinter, berfikir ke depan, suka baca buku-buku keren, suka nonton film-film keren. Pokoknya ilmunya tinggi banget deh. Dari SD dia juga udah langganan jadi juara kelas. Nggak kayak aku yang bisanya cuma cengengesan. Tapi kenapa cowok-cowok banyak yang lebih terpesona sama aku ya. (hahaha). Ciara juga selalu duduk di depan. Paling depan. Dan itu membuatku juga kudu wajib harus duduk di depan. Soalnya aku duduk sebangku sama dia. Kata Mama sih biar ikut jadi pinter. Tapi anehnya walaupun kita berdua dateng waktu jam pelajaran ke dua (telat) pun. Bangku depan tetap kosong. Kayaknya tuh bangku udah ada nama kita berdua. Atau gara-gara temen-temen sekelas takut didamprat sama Ciara ya. Whatever lah. Pokoknya Ciara is the bestfriend for me.
Aku cukup lama membayangkan kehebatan Ciara membuat aku nggak sadar kalau aku berhenti di tengah jalan dan ditinggal oleh Ciara.
“Lem..lem.”, sambil clingukan sana sini aku mencari Ciara.
Tiba-tiba “brrruuukkkkk”. Aku disodok dari belakang dan jatuh.
“Kamm..”,
“Maaf”.
Aku segera menghentikan umpatanku. Setelah mendengar suara berat yang meminta maaf padaku.
“Ya..lain kali ati-ati dong.”
“Maaf, aku lagi buru-buru.” , dia meminta maaf lagi sambil menyerahkan Nyam-nyam (jajanan kesukaanku) yang tadi terjatuh.
“Heh, tikussss ngapain jongkok-jongkok di situ? Buruan dong.”, tiba-tiba Ciara memanggil dari balik pintu mobil Yaris putih yang dibuka setengah.
Aku segera buru-buru menghampiri dengan wajah seetengah sebel.
“Siapa yang jongkok-jongkok?? Aku jatuh tadi.”
“Hahahahahaha..” Ciara tertawa puas. Sambil sedikit menahan tawa dia bertanya sok care. “Kok bisa sih sayangku...”
“Disodok orang.”, jawabku singkat.
“Untung dia langsung minta maaf. Sebelum gue damprat.”, tambahku kesal.
“Hahahaha. Udah buruan masuk.”
Tiba-tiba aku tersadar dan terkaget. Kunciku. Kunci mobil ku. Hilangg!!! Tiddaaaaakkkk!! Mampus gimana aku pulangnya nih.
“Waaaa Lem,..mampus kita nggak bisa pulang Lem, mampuss.. Kunci mobilku Lem. Ilang. Gimana dong?!”, aku ribut sendiri dengan panik sambil mengobrak-ngabrik isi tas ku. Mengeluarkan isi kantongku dan menjatuhkan Nyam-nyam ku ke kubangan.
“Heh, tikus odong!!”, Ciara berusaha membuyarkan kepanikkan ku.
“Apaan sih Lem, bantuin napa?! Kita nggak bisa pulang nih.”
“Heh odong!!”, Ciara berdiri dan memegang kepalaku dengan kedua tangannya kencang-kencang. Sambil melotot-melotot serem.
“Liat dong, tadi kan aku udah duduk di dalam mobilmu. Udah pasti kuncinya ada di aku.”, tukas Ciara dengan agak bernada tinggi.
“He? Kok bisa?”, tanya ku heran.
“Tadi kuncimu kamu tinggalin di atas meja.Ya aku ambil dong. Ceroboh banget.”
“Hehehe.”, aku meringis.
“Tapi gara-gara kamu bikin aku panik, aku jadi ngebuang Nyam-nyam ku kan. Tuh.”, sambil menunjuk ke arah kubangan. “Pokoknya ganti ahh.”
“Hahahah. Iya iya. Buruan masuk. Kita pulang.:”
Akhirnya aku dan Ciara pulang. Aku mengantar Ciara dulu. Karena memang hari ini giliranku yang membawa mobil dan menebengi dia. Dan besok gilirannya yang membawa mobil. Kita memang selalu bergantian membawa mobil. Agar lebih hemat BBM dari pada harus membawa mobil sendiri-sendiri. Bukankah kita memang dituntut untuk sadar diri dalam pemakaian SDA.

***

“Mama belum pulang bik?”, sambil berjalan menuju kamar aku melontarkan pertanyaan ke pembantuku.
“Biasanya juga sore, mbak baru pulang?”, tanyanya balik.
“Biasanya juga jam segini.”, jawabku singkat.
“Mau kemana mbak?”
“Kamar.”
“Terus?”
Aku udah mulai mengerti arah pembicaraan pembantuku itu. Biasanya sepulang sekolah, jika aku tidak sibuk dia memintaku menemaninya nonton FTV gitu. Katanya tuh FTV jadi tambah bagus kalu ada aku. Maksudnya apa juga aku nggak ngerti.
“Mau nge-net.”, segera aku menjawab dengan wajah sok super sibuk.
“Mau nge apa mbak? Nge-ndat (ungkapan bahasa jawa artinya gantung diri)?? Mbaaaaaaakkkkk.”
“Udah sana nonton FTV aja sendiri bik, aku sibuk mau buat tugas.”, aku segera menjawab dengan menenangkan dia. Sebelum dia panik dan membuat kekacauan di rumah.

***


To Dafa : papap, ak pgn qt ktmuan.mw?

To Tasya : Knp?

To Dafa : yaa gag papa..mw?

To Tasya : emm.. oke deh. Bsk sabtu aja ya. Di caffe coffie jam 3

“Udah ku bilang, dia pasti mau ketemuan.”, kata ku sambil tersenyum bahagia waktu Ciara membaca sms-an ku dengan Dafa. Kita memang saling terbuka jadi tanpa harus minta ijin pun Ciara bisa langsung membuka-buka HP-ku atau pun masuk ke kamar ku. Begitu sebaliknya.
“Iya iya..Aku kan juga nggak pernah bilang dia bakalan gag mau di ajak ketemuan.”, Ciara langsung berkomentar. “Ya good luck lah.”
“Baik, anak-anak kita ulangan bab listrik statis.”, tiba-tiba bu Dumilah masuk ke kelas.
‘What?? Ulangan?? What is that??’ protesku dalam hati. Lalu protes dari hatiku yang terdalam tiba-tiba saja keluar tanpa bisa ku kendalikan.
“Tapi Bu.., itu kan pelajaran anak SMA.”, aku berteriak dengan wajah panik dan polos. Wajah dodoh tepatnya.
“HAHAHAHAHA”, semua anak di kelas tertawa puas. Aku hanya terdiam.
“Kamu pikir, kamu itu kelas berapa tikus odong?”, Ciara berkata pelan. “udah tenang aja, aku udah belajar kok.”, dia menenangkan ku.
Oh Ciara Helm ku. Kau benar-benar pelindungku. Love you so much. My bestfriend.


***

“Mamam, sorry kayaknya nanti nggak bisa ketemuan. Aku ada acara mendadak nih.”, suara Dafa terdengar di seberang sana.
“Yah, kok gitu sih pap?”
“Iya mam, lain kali ya.”, Dafa mengakhiri telponnya yang baru satu menit itu.
“Gembel!!”, gumam ku kesal.
“Lem, ke caffe coffie sekarang dong lem.”
“He? Bukannya kamu...”
“Pokoknya kesini ya Lem. Aku udah di sini dari tadi sendirian.”
“Iya iya. Aku kesana sekarang.”, Ciara menutup telponnya.


***

“Jadi dia makin jauh sekarang?”, tanya Ciara .
“He’em.”
“Terus kamu?”
“Kenapa?”.
“Nggak kenapa-napa gitu?”
“Biasa aja ah Lem, aku juga nggak terlalu suka banget kok Lem sama dia.”
“Ceilleeehh, tegar banget loe.”, gurau Ciara.

Well, memang sejak batal ketemuan waktu itu aku dan Dafa jadi semakin jauh. Jarang SMS-an, FB-an, apalagi telpon-telponan. Dan kita sama sekali udah nggak pernah berhubungan lagi. Semuanya hilang begitu aja. Nggak ada kata jadian, nggak ada kata putus. Ternyata yang dibilang Ciara itu bener. Semuanya itu hanya sebatas HTS. Hubungan tanpa status. Dan mulai sejak itu. Aku mengganggap bahwa semua cowok itu nggak ada yang serius. Dan aku mewajibkan diriku sendiri menanggapi cowok-cowok yang mendekati ku dengan tidak serius juga. Aku juga mulai menerapkan HTS dalam kehidupanku.


***

“Tasya.” Aku merasa ada yang memanggilku. Tapi aku tetap berjalan lurus.
“Tasya.”
Ciara menoleh.
“Kus, kamu dipanggil tuh lho.”
“Ha?” Aku menoleh.
“Barusan nonton juga?”, orang itu bertanya.
Aku hanya bisa diam dan bicara dalam hati. ‘Kayaknya pernah lihat, tapi siapa ya nih orang. Emmm.. Oh iyaa dapet aku inget. Nih orang yang nyodok aku waktu itu. Kampret.’
“Iya dit. Kamu juga?”, Ciara menjawab karena menyadari aku yang terdiam dan tidak menjawab pertanyaan cowok itu. Mungkin Ciara merasa iba sama tuh cowok.
“Iya Ra, tadi aku sempet liat kalian berdua.”, Radit mengalihkan pandangannya ke Ciara. “emm.. okey Ra, aku duluan ya. Mari Tasya.” Dia menjauh meninggalkan kita berdua.
“Siapa sih tadi Lem?”
“Radit Kus, anak X-5. Dari Canada. Kamu nggak kenal?”
“Enggak, yang aku tahu dia yang nyodok aku waktu itu.”
“Hahahaha. Masih diinget-inget aja Kus.”
“Iyalah, kejadian paling memalukan di depan semua anak sekolah.”
“Kamu lebih sering mempermalukan dirimu sendiri di depan banyak orang Kus. Hahahaha. Autis. Ayo pulang.”, Ciara menyeretku sambil terus meledeki dan menertawakan aku.

***

“Kamu deket sama Dirga Kus?”, tanya Ciara yang tiba-tiba duduk di sebelahku membawa semangkuk bakso.
“Iya,. Kenapa?”
“Jadian?”
“Aku pernah cerita kalau aku jadian sama Dirga ke kamu Lem?”
“Enggak juga sih.”
“Nah, berati enggak Lem. Emang apa sih yang enggak aku critain ke kamu Lem?”
“Teerus?”
“HTS-an dong.”
“Kamu enggak blublblublub...” Mulut Ciara penuh dengan bakso sampai-sampai aku nggak bisa mendengarnya.
“Ha? Apaan Lem? Telen dulu tuh bakso.”
“Kamu enggak takut sakit hati? Kan kalian nggak ada ikatan. Ntar kalo dia nikung gimana?”, tanya Ciara sok care.
“Ya makanya jangan terlalu sayanag dong. Biasa aja.”
“Gila!”, dengan nada meledek.
“Biar. Weeeekkkk.”, aku balas meledek dengan sedikit memberikan sentakan ke sendok berisi bakso yang bertengger di atas mangkuk Ciara dan ‘wuuuuuuiiiinngggzssss’ bakso itu terlempar dan masuk ke es tehnya kakak kelas di seberang meja. Untung tuh kakak kelas lagi ngadep ke belakang jadi dia enggak tahu ada es bakso di es teh nya.
“Kabur”, bisik Ciara kepadaku. Kita pun langsung berlari. Beberapa detik kemudian. ‘brrruuukkkkkkk’ kampret aku nabrak orang.
“Sorry aku lagi ke buru-buru.”, ucapku sambil segera berdiri dan berjalan cepat.
“Nggak papa Tasya.” Aku mendengar suara berat dan halus itu ketika aku menengok sebentar. Ternyata aku menubruk Radit. YEESS satu sama.


***

Jadi sejak saat itu aku mulai dikenal dan dijuluki sebagai Miss. HTS. Aku hanya beberapa Minggu dekat dengan Dirga. Setelah itu berhenti SMS-an, telpon-telponan dan panggilan sayang-sayangan. Lalu aku dekat dengan Bima. Beberapa Minggu dan semuanya kembali normal. Dengan Andri, beberapa hari lalu selesai tanpa ada kata putus. Bahkan kata jadian pun nggak ada. Kita hanya sebatas HTS-an saja. Memang benar dugaan ku semua cowok itu nggak ada yang serius menjalani hubungan dengan seorang cewek. Aku tahu dan aku sangat menyadari bahwa jika kita menjalani hubungan tanpa setatus kita harus siap patah hati. Karena HTS itu sama artinya dengan HTSH (Hati Siap Hancur). Untuk menghindari itu kuncinya adalah kita tetap harus membatasi hati dan rasa sayang kita kepada cowok itu. Kita hanya mencari perhatiannya saja. Kenapa tidak? Ingat! Seorang cowok tidak pernah benar-benar serius dengan hubungannya. Jadi kenapa kita para cewek tidak melakukan hal yang sama?

Tahun telah berganti, sekarang aku udah naik ke kelas XI.
“Horrreeee. Kita sekelas lagi Helem ku sayang.”, teriak ku bahagia.
“Biasa ajalah Kus, bukannya kamu ya yang minta aku bilang ke papi ku biar kita sekelas lagi. Kamu kayak anak autis.”, ledek si Ciara.
Iya, memang benar papi Ciara lah yang membuat aku dan Ciara bisa sekelas lagi. Om Danu (papi Ciara) memang sangat akrab dengan kepala sekolah kami. Jadi sangat mudah untuk membuat anaknya satu kelas lagi dengan sahabat karibnya. Dan setelah aku pikir-pikir ternyata aku memang seperti anak autis. Berlarian kesana kemari karena bahagia bisa satu kelas lagi dengan Ciara. Dan di kelas XI ini julukan buatku belum pudar juga. Miss. HTS. Ya kali ini aku dekat dengan Radit. Orang yang menyodokku dan orang yang aku tubruk. Baru beberapa minggu setelah tahun ajaran baru dimulai. Semuanya berawal waktu dua hari setelah tahun ajaran baru Radit mendatangi kelas ku.
“Tasya.”, tiba-tiba dia memanggilku dari belakang ketika aku berjalan menuju kelas. Aku segera menoleh.
“Ya. Kamu?”
“Iya.”, sambil menyodorkan Nyam-nyam ke arahku.
“Ini apa?”. Pertanyaan yang bodoh. Semua orang juga tahu itu Nyam-nyam jajanan paling enak dan terkenal itu. Menyadari kebodohan pertanyaan ku, aku segera memperbaikinya.
“Maksudku ini buat sya...”.
Dia memotong kata-kata ku.
“Buat Tasya.”
“Buat aku?”
“Iya buat kamu. Kesukaanmu kan?”.
Tiba-tiba dia menjulurkan tangannya.
“Radit.”
“Hemm, iya aa.. aku Tasya.”, aku menjabat tangannya dengan ragu. Entah kenapa tapi kau merasa sangat gugup dan salting.
“Boleh aku masuk kelas kamu?”
“Bo..boleh..boleh dong. Hehehehe.”, aku mengangguk ragu sambil cengengesan.
Sejak saat itu aku mulai sering ngobrol dengan Radit dan kita semakin dekat.

Kali ini aku menjalani hidup ku lebih santai (memang biasanya nggak santai?). Maksudku lebih santai lagi dari tahun lalu. Karena buat ku kelas XI adalah masa-masa emasnya anak SMA. Jadi harus benar-benar dinikmati. Namun ada satu hal yang membuatku menjadi stress dan lebih autis. Jadi sejak kelas X semester genap hingga skarang ini. Aku sering mendapat puisi rahasia dari penggemar rahasia yang diletakkan di tempat yang rahasia.
Setiap aku membuka locker aku aku selalu menemukan secarik kertas berisi puisi indah. Aku juga nggak pernah tahu siapa orang yang kurang kerjaan yang sempat-sempatnya menulis hal nggak jelas itu. Aku nggak menceritakan hal ini pada Radit, karena aku pikir buat apa. Dia juga bukan siapa-siapa ku. Cuma HTS-an doang.
Jadi seperti biasa aku hanya bercerita pada Ciara.

Wajahmu begitu indah
Dalam dan mempesona
Ingin ku dekap engkau , namun kau begitu jauh
Wajahmu begitu indah
Syahdu dan menawan
Ijinkan ku tuk melihatmu
Hanya untuk selalu melihatmu.

Aku hanya diam kesal, waktu Ciara autis itu membaca puisi dari sang Pangeran misterius keras-keras di dalam kamarku.
Ooohh.. mutiaraku
Namun mengapa suaramu selalu berdencit di telingaku
Mengingatkanku pada seekor tikus lucu.
“Hahahaha”, Ciara tertawa. Sebenarnya bagian ini tidak ada di puisi itu. Itu hanya tambahan dari si autis yang membacakannya sambil sok tersenyum manis. Tidak sadarkah dia betapa menyebalkan mukanya saat itu?
“Puas loe Lem? Kenapa nggak sekalian aja besok kamu baca keras-keras pake speaker mushola?”
“Oke. Siap Kus.”
“Gila.”
Well, itulah puisi yang aku dapat tiap hari. Puisi yang sama dari penggemar rahasiaku. Yang membedakan dari setiap puisinya hanyalah tanggal dibuatnya puisi. Kata si Ciara sih lebih baik aku menyimpan puisi-puisi itu. Karena terkadang kata-kata Ciara itu benar maka aku menurutinya.


***


Semakin hari aku semakin dekat dengan Radit. Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Mungkin sayangku untuk Radit melebihi sayangku untuk HTS-an ku sebelum-sebelumnya. Jadi begitulah setiap hari aku mendapat perhatian yang begitu luar biasanya dari Radit yang membuat aku berpikir apa aku memang benar suka padanya. Dan aku juga selalu mendapat puisi yang sama dari sang Pangeran misterius.
Hari ini adalah hari seminggu setelah UAS dan tiga hari sebelum kita anak kelas XI studytour ke Bali. Dan aku masih saja dekat dengan Radit (tumben bisa seawet ini), bayangan piknik ke Bali bersama Radit pun semakin menghiasi mimpiku. Nggak kebayang gimana rasanya aku menikmati keindahan Pulau Dewata dengan orang-orang yang aku sayang Ciara dan Radit. Tapi ingat, hubungan ku dengan Radit hanya sebatas HTS-an. Walaupun kadang ku berharap lebih tapi masih terlalu cepat buatku untuk menganggap bahwa ada cowok yang bisa serius dengan hubungannya. Aku juga masih mendapat puisi-puisi dari sang Pangeran misterius. Dan aku belum menceritakan kepada Radit masih dengan alasan yang sama.
Namun pagi ini lain. Aku masih mendapatkan puisi dari sang Pangeran misterius. Tapi yang berbeda adalah bait puisi itu ada yang berbeda.
Wajahmu begitu indah
Dalam dan mempesona
Ingin ku dekap engkau , namun kau begitu jauh
Wajahmu begitu indah
Syahdu dan menawan
Ijinkan ku tuk melihatmu
Hanya untuk selalu melihatmu.
Namun maukah kau untuk melihatku?
Hanya untuk melihatku
Ku nanti kau di sudut sekolah
Ketika sang waktu berhenti pukul 3
Your Secret Admire

“Jadi, dia mau ketemu kamu pulang sekolah?”, Ciara mengambil kesimpulan setelah aku membaca puisi itu pelan sebelum pelajaran dimulai.
“Iya, kayaknya sih gitu.”
“Terus? Kamu mau dateng?”
“Enggak ah Lem.”
“Lho kenapa?”
“Aku udah seneng ama HTS-an ku sama Radit.”
“Tapi kan Kus, ni orang serius. Katamu kamu cari cowok yang serius. Coba aja dulu temuin. Itung-itung nyenengin dia,”
“Ogah ahh. Aku nggak mau ngasi harepan.”
“Emang HTS-an tu enggak ngasi harepan? Malah menurutku lebih parah. Jadinya nggantung.”
“Enggak ah Lem.”, aku tetap bersikukuh nggak akan menemui orang itu.


***

Hari ini hari Minggu. Sehari sebelum acara studytour ke Bali. Aku bangun dengan penuh suka cita. Karena nggak sabar menunggu hari esok.
“Mbak, mbak nih ada surat.”, tiba-tiba pembantuku menyodorkan sebuah amplop pink.
“Dari siapa bik?”
“Ndak ngerti e mbak, tadi ada di teras rumah. Tulisannya buat Tasya gitu.”
“Emang bibik bisa baca? Hahahaha.”
“Eee.. lha gini-gini saya itu blublublublhub...”
Aku berjalan meninggalkan pembantuku yang masih mengoceh di luar hingga suaranya semakin pelan dan hilang.
‘Surat dari siapa ni. Nggak Hi-tech banget pake surat-suratan segala. Kenapa nggak SMS atau kirim e-mail’, ocehku dalam hati.

Wajahmu begitu indah
Dalam dan mempesona
Ingin ku dekap engkau , namun kau begitu jauh
Wajahmu begitu indah
Syahdu dan menawan
Ijinkan ku tuk melihatmu
Hanya untuk selalu melihatmu.
Dan namun ku hanya ingin berdiri di atas kepastian
Kepastian untuk terus memandangmu
Dan kau terus memandangku. Hanya aku.
Namun kepastian itu tak akan ku dapat hingga ku pergi dan tak akan
Memandangmu
Hanya karena ku tak bisa
Your Secret Admire

Mikail Raditya
‘What?? Aku tersentak setelah membaca puisi itu, ternyata sang Pangeran misterius itu Radit. Terus. Terus apa maksud puisi itu? Pergi? Pergi kemana?’ kata-kata itu bersautan dalam batinku. Tiba-tiba terdengar lagu paparazi dari hp-ku. Ada yang menelpon.
“Iya Lem.”
“Sya, Radit mau ke Canada.”
‘What the hel !!!’ aku bener-bener kaget.
“What,? Dia nggak bilang ama aku Lem.”
“Masa siih?? Tapi dia SMS aku nih barusan.”
“Oh it’s a big no no! Kapan dia berangkat?”
“Pagi ini, penerbangan pertama jam 9.”
“Taaapp..taappii..:”
“Buruan mandi 15 menit lagi aku ke rumah kamu Sya.”
“Iii.....iyaa.”, dengan segera aku menutup hp-ku.



***

“Waktu itu, lewat puisi terakhir aku memberimu sebuah pilihan secara tidak langsung.”, dengan senyum yang terpaksa Radit menatap wajahku dalam-dalam.
“Itu juga menjadi sebuah keputusan yang besar buat aku. Apakah aku akan pergi ke Canada atau di sini bersama mu. Tapi memang jawabannya adalah aku harus kembali ke Canada.”.Dia diam sejenak.
“Semua orang pasti menjalani kehidupan dengan serius. Ini hanyalah masalah waktu untuk membuat keseriusan itu menjadi nyata.”, kata-kata bijak terucap dari bibir lembut Radit. Dengan senyum yang sangat manis dia berkata,
“Wajahmu begitu indah dan aku akan terus melihatmu.”
Setelah itu dia berjalan menjauh dan aku semakin tak bisa melihatnya.
Hari ini adalah hari yang buruk buat aku. Aku harus melihat dengan mata kepala ku sendiri dan merelakan orang yang aku puja–puja, yang aku sayang terbang ke Canada. Aku dan sahabat ku hanya bisa terdiam memandangi punggungnya yang semakin menjauh.
“Ayo tikus odong.”, dengan senyum yang terpaksa Ciara mengajakku pulang dan berharap bisa menenangakanku.
“Hmm.”, aku mengangguk dan tersenyum pada Ciara. Seolah menyembunyikan hatiku yang runtuh. Baru kali ini aku menyembunyikan sesuatu dari Ciara.
Aku memang pernah berkata bahwa HTS itu sama artinya dengan HTSH (Hati Siap Hancur) dan aku mengalaminya sekarang. Dan semua kunci-kunci untuk menghindari HTSH dalam HTS ternyata gagal total. Andai saja aku datang ke sudut sekolah dengan membawa kepastian pasti aku juga mendapat kepastian dari Radit. Dan dia nggak akan pergi. Tapi memang mungkin aku terlalu menyipitkan mata dan tidak perduli dengan sebuah kepastian.
Ketika aku sedang melamun memandangi jalan. Tiba-tiba di balik kemudi Ciara berteriak.
“Yee. Besok kita ke Bali.”. Dia menoleh ke arah ku sebentar lalu mengembalikan pandangannya ke depan.
“Hhhhh…”, aku hanya menghela nafas panjang.
“Walaupun nggak ada Radit tapi kan masih ada aku.”, hibur Ciara sambil tersenyum lebar. Dia kembali memandangku sebentar lalu kembali lagi berkonsentrasi ke depan.
Iya lagi-lagi Ciara benar. Walaupun nggak ada Radit tapi kan masih ada Ciara. Sahabatku!
“Hahahaha. Tentu dong Lem. Yang penting kan ada kamu. Kita ke caffe coffie ya Lem.”, aku tersenyum kepada Ciara.
“Hahaha oke. Tikus odong autis.”, Ciara tertawa sambil mengemudikan jazz putih ini menuju ke arah caffe coffie tempat favorit kita berdua.


The End
terimakasih atas kunjungannya jgn lupa tinggalkan pesan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar